Senin, 12 November 2007

This is England (2006) Shane Meadows

Film drama yang mengambil setting Inggris di early 80”s ini bercerita tentang gambaran kasar tentang Inggris yang diceritakan lewat racial prejudicenya kaum skinhead (yang pada era itu kaum skinhead diyakini sebagai para penganut faham rasial…That’s shits man…), juga tentang sebuah hope, a great friendship, loneliness and fuckin shit about politics.

Film yang menurut saya sangat-sangat Brit banget, karena (mungkin) memasukkan unsur subculture (yang lahir) di Inggris, juga pada awal tahun 80-an tersebut meredupnya glam dan musik rock memasuki babak baru, juga merupakan tahun yang sangat ironis bagi rakyat Inggris karena pengangguran meningkat sangat tinggi serta lunturnya nasionalisme di inggris raya, sampai kelunturan nasionalisme di inggris, serta kelanjutan dari mini skirt, mini morals (seperti Indonesia sekarang) dari era sebelumnya.

Film ini di buka dengan gambar peristiwa yang seolah-olah menjadi ikon di tahun tersebut, yang dulu Cuma kita lihat lewat Dunia Dalam Berita nya TVRI.
Dengan lantunan musik reggaenya F.Hibbert, “54-46 was my numbers” yang dibawakan dengan cantik oleh tooth and the maytails, compile gambar seperti Falkland war dimana Inggris berperang dengan Argentina untuk pulau Malvinas, aksi rasis yang ditujukan kepada imigran Pakistan (asia), neo-nazi parade, Margaret thatcher, film knight rider, skinhead gig, pernikahan putrid Diana dan pangeran charles, white reggae, aksi-aksi greenpeace, era video game Atari (dimana Atari mengeluarkan produk barunya table-version), era awal cd audio dibuat, dan tentu saja skinhead stuff like fred perry, ben shermans, Dr. Marten boots (that’s make me think about …; ) ) serta gignya the police sangat menyatu dengan musik reggae untuk menggambarkan suasana pada era itu (its very-very cracking for eighties sountrack).

Film ini bercerita tentang seorang anak (shaun) yang mengalami masalah pada kehidupan karena ditinggal mati ayahnya di perang malvinas, ia menjadi peka dan sangat perasa.
Ia kemudian bertemu dengan Woody seorang skinhead yang mengajaknya ikut bergabung ke dalam geng, di situ ia dapat diterima dan mendapat teman. ada peristiwa yang menurut saya lucu ketika Shaun minta sepatu Dr Martens kepada ibunya, and he said…no shaun, they look like thug boots, they’re awful…(hehehe..teringat dulu ibu saya juga ngomong seperti itu).

Persoalan muncul ketika geng itu kemasukan orang lama (Combo) yang membawa rasa rasis ke dalam geng itu, karena Woody menolak prinsip rasis itu, muncul perpecahan dan setiap tokoh dalam geng tersebut harus memilih untuk berpihak kepada siapa, pada saat itu rakyat Inggris sedang dilanda krisis karena pengangguran dan masalah rasial yang tinggi, dimana perekonomian dikuasai oleh orang non-Inggris dan sensitive issue tersebut digunakan oleh kaum nationalist sebagai alat propaganda kampanye yang menggunakan skinhead sebagai alat perangnya, itu kelihatan pada saat jubir nationalist Front (di film itu) berbicara,
“Our country is being stolen from under our noses. The time has come to take it back”.
(Sebuah pernyataan yang saya kira sangat nasionalis banget…)

Pemakaian karakter Shaun (12 Tahun) menurut saya bagus, karena Like the England he inhabits, he is a heap of contradictions. His small frame and innocent face belie his brazen gobbiness and the foul, racist curses that his mouth emits are made all the more deplorable in contrast to his simple, childish giggles.
penggunaan frame subkultur skinhead untuk menggambarkan (Inggris umumnya) film ini khususnya sangat orisinal karena anggapan saya dengan melihat satu budaya dari sebuah negara, kita akan melihat gambaran umum tentang negara tersebut.

Penggambaran drama film diatas sangat gamblang, baik dan enak ditonton, walaupun ceritanya sangat sentralisitis, (hanya tentang persoalan itu saja), tapi dengan pandangan dan angle sang sutradara (mungkin) dengan background subkultur film jadi tidak membosankan.

Mungkin menurut saya apa yang kita ambil dari This Is England ialah sang sutradara berhasil mengangkat suatu cerita yang emosional, dengan sebuah background sebuah keadaan subkultur, walaupun memakai setting 80-an tapi jangan harap romantisme masa silam ditemukan disini, yang (selalu) dipenuhi glitter dan gaya klasik (retro), dan dibumbui dengan jalinan asmara dua sejoli (he..he..he..). Tetapi, difilm ini penuh dengan rasa hangat hubungan antar manusia, refleksi sosial dari keburukan moral dan pemahanaman yang salah tentang politik, suatu keadaan saat ini kita rasakan….

Tidak ada komentar: